Rabu, 06 Januari 2021

Revolusi Diam Kaum Muda

Hudan Hidayat
 
Sebuah statemen tak bisa mengelak dari klaim. Seperti “sumpah kaum muda” adalah klaim akan rasa memiliki: Indonesia yang bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu. Dan klaim tak memerlukan referendum “diterima atau ditolak” bergantung isi statemennya sendiri. Teks “Proklamasi” dipuja rakyat Indonesia karena dengannya, mereka bebas dari belenggunya.
 
Antara “Sumpah Pemuda” dan “Proklamasi”, ada ide yang berlanjut. “Sumpah” adalah upaya penyatuan, sedang “Proklamasi” adalah upaya pernyataan. Ke-Indonesia- an yang telah disatukan kini dinyatakan telah merdeka, tak terikat atau tunduk pada penjajahnya. Ia merdeka. Ia bebas.
 
Dua teks di atas adalah karya “akbar kaum muda”. Akbar, karena ia berdaya mimpi dan berdaya inspirasi: mereka mengimajinasikan sesuatu yang belum ada, masih in absentia. Tetapi dengannya “in absentia” itu mewujud.
 
Indonesia telah jauh meninggalkan sejarah itu. Masuk dalam globalisasi bercorak ilmu pengetahuan dan tehnologi, yang memproduksi jasa dan benda, isu dan wacana. Lokomotifnya adalah “neo-kapitalisme global. Dalam kancah ini, di manakah posisi Indonesia? Mampukah ia memproduksi jasa dan benda, isu dan wacana? Atau ia hanya akan jadi konsumen? Dari kenyataan hidup sehari-hari, jawabnya sudah jelas sekali.
 
Sejarah adalah sejarah kaumnya sendiri, dengan konteks dan masalahnya sendiri. Respon dan jalan keluarnya sendiri. Maka bagaimana kaum muda Indonesia saat ini, menjawab sejarah hidupnya yang terkepung, dan dikepung, oleh corak global itu? Apakah pikiran mereka? Mampukah mereka keluar dengan mimpi dan inspirasi? Dapatkah mereka membuat imajinasi baru, meledakkannya dalam “statemen akbar” yang berdaya ubah? Sanggupkah mereka menemukan “kata dan kerja” in absentia?
 
Sejarah kebudayaan dan peradaban, adalah kisah manusia yang mendayakan akalnya, melalui institusi “ilmu” yang mengubah alam menjadi benda dan jasa. Isu dan wacana. Juga darah dan air mata. Tapi di Indonesia penangkapannya telah salah kaprah: ilmu itu, “tak diiringi” dengan “ilmu yang kita butuhkan”. Dan ini berkait dengan budaya, alam pikiran, cara pandang, akan kemajuan. Karenanya, meski sekolah, kampus, kursus, pelatihan, menjamur, tapi alam Indonesia tak juga berubah: ia tetap potensi alam, yang menunggu jamahan tangan putera-puterinya. Kalau pun ada tangan-tangan yang menjamah, itu adalah tangan putera-puteri anak negeri lain. Jamahan yang membuat kita jadi objek: mereka mengeduk alam kita, sedang kita dapatkan ampasnya.
 
Hal ini terjadi karena ilmu di Indonesia tidak menganak tehnologi, yang mampu mengubah alam menjadi benda dan jasa. Ilmu di Indonesia hanya ilmu yang mereproduksi “makna” – hubungan antar manusia, manusia dengan alamnya, atau manusia dengan pemerintahnya. Bila kita berjalan ke toko buku, terlihatlah ilmu yang menjual makna itu: buku filsafat, politik, hukum, novel, yang semuanya dilabeli “penting dan wajib dibaca”, terutama bagi mahasiswa atau pelajar. Padahal buku-buku itu, tak pernah bisa mengubah alam, mengubah padi jadi nasi. Demikian juga liputan media massa. Hampir sebagian besar tayangan media massa mengumbar “kegenitan” soal makna. Soal yang abstrak. Memang ada sandarannya: pemerintah, atau negara, dalam tata hubungan dengan rakyatnya. Tapi segala kesibukan itu hanya berhenti pada reproduksi “makna”. Sekali lagi: tak pernah bisa mengubah alam menjadi benda dan jasa.
 
Segala kesibukan itu akhirnya seolah menjadi kebenaran. Kaum muda merasa sudah bekerja, bila terlibat dalam rangkaian panjang produksi makna ini. Dan karena bekerja, maka tak ada rasa salah sama sekali. Begitulah mereka suka berderap ke DPR, Gedung Bundar Kejaksaan Agung, atau menghujat mantan Presiden Suharto. Atau beramai-ramai dalam ruang seminar, diskusi, ratusan Munas yang terjebak hanya dalam pemilihan Ketua dan semacamnya. Semua itu kerja. Semua itu seolah jalan penyelamatan. Padahal jalan penyelamatan adalah bagaimana mengubah alam – alam Indonesia. Apa boleh buat, kesadaran mengubah alam sebagai hakekat kerja, terbenam dalam kemilauan makna yang disokong oleh publisitas media massa. Ilmu dan budaya kerja, telah meleset dari tangan kita.
 
Maka apakah budaya kerja? Budaya kerja adalah sikap mental untuk mencari ilmu yang menganak tehnologi. Etos yang merelakan diri untuk melepas kegiatan fisik, bila karenanya akan menghambat pencarian ilmu. Tapi dalam ilmu, mesti ada keseimbangan antara ilmu yang menganak tehnologi, dengan ilmu yang menganak makna. Untuk konteks Indonesia kini, dalam porsi 9 banding 1. Biarlah kita memiliki segelintir filsuf, ahli humaniora, pakar politik dan hukum, jago ilmu ekonomi, atau sebiji novelis. Tapi sisanya masuk ke dalam penciptaan benda dan jasa. Biarlah forum-forum kita kosong melompong, karena ditinggalkan kaum muda yang masuk ke loboratorium, yang sepi dan jauh dari tepuk tangan. Tapi dari sepetak tempat sepi ini, alam dan lingkungan kita akan berubah. Bila padi ditanam menghasil sekaleng, maka laboratorium membuatnya jadi seton. Bila ikan ditangkap sekilo, maka laboratorium membuatnya “seperahu penuh ikan”.
 
Laboratorium akan membuat panen-panen kita naik secara signifikan. Membuat kita mengeduk hasil bumi secara proporsional. Membuat produk budaya atau olahraga menjadi industri. Memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dan ekspor untuk devisa. Eskpor dan devisa? Ya. Inilah jalan yang mesti ditempuh. Jalan yang akan mengayakan sebuah bangsa.
 
Maka kesinilah orientasi “Revolusi Kaum Muda”, sebuah revolusi diam dengan beban ganda: di satu pihak melakukan revolusi terhadap budaya kerja, di lain pihak melakukan revolusi dengan mencari ilmu yang menganak tehnologi pengubah alam. Inilah daerah atau kawasan in absentia kaum muda kini.
 
Apakah wujud praktis dari “Revolusi Diam Kaum Muda” ini? Adalah perlawanan yang datang dari kesadaran bahwa perubahan adalah hak. Manakala hak ini luput, atau lambat direspon oleh penguasa, maka kaum muda tampil merebut haknya. Mereka tidak tergantung lagi pada penguasa. Tapi memilih nasibnya sendiri. Menyatakan keinginan mereka sendiri. Tamat SMA tidak berderap ke fakultas politik, ekonomi, hukum, sosiologi, atau filsafat. Tapi berbondong ke “IPB” atau “ITB”. Tapi sekolah-sekolah semacam ini bisa dihitung dengan jari. Justru itulah soalnya: dengan tidak mau masuk ke sekolah “pencipta makna”, otomatis ada gelombang besar anak muda yang tertahan di tempatnya. Gelombang yang menciptakan “Revolusi Diam Kaum Muda”. Revolusi yang tidak dinyatakan dengan gerak fisik. Tapi revolusi sikap mental dengan gerak diam menunggu. Kita tahu, pemerintah tidak punya sekolah yang menampung revolusi diam itu. Tapi gelombang ini akan memaksa mereka berpikir, mencari jalan, dan akhirnya akan “membubarkan, memproporsionalkan”, sekolah-sekolah yang ada, dengan memetamorfosakannya ke sekolah-sekolah pencipta benda dan jasa. Sampai terjadi proporsi yang wajar, antara kedua kubu sekolah itu, yaitu 9 berbanding 1. Hasilnya: kita memiliki seorang jago politik, tapi 9 orang jago mengubah kekayaan alam.
 
Dengan demikian, di tangan kaum muda Indonesia kini, ada tiga “teks akbar”, teks yang mampu membangkitkan batang terendam, demi cita-cita kemajuan dan kemerdekaan Indonesia. Yaitu “Sumpah Pemuda”, “Proklamasi”, dan “Tehnologi Pencipta Benda dan Jasa”. Duhai kaum muda, carilah narasi “teks ketiga” ini.
 
Tidak percaya? Cobalah tempuh jalan ini sesekali. Sebelum kamu “mati”.
 
4 Mei 2008 http://sastra-indonesia.com/2008/07/revolusi-diam-kaum-muda/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

A Jalal A. Mustofa Bisri A. Muttaqin A. Qorib Hidayatullah A. Rego S. Ilalang A. Rodhi Murtadho A. Syauqi Sumbawi A.H. J Khuzaini A.H.J Khuzaini A.S. Laksana Abdoel Moeis Abdul Azis Sukarno Abdul Hadi W.M. Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Abubakar Batarfie Abdullah Harahap Acep Zamzam Noor Achi Breyvi Talanggai Achiar M Permana Aditya Ardi N Afrizal Malna Agama Para Bajingan Aguk Irawan MN Agus Buchori Agus Noor Agus R. Sarjono Agus Sulton Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Gaus Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Rifa’i Rif’an Ahmad Tohari Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhmad Fatoni Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Akrom Hazami Al Azhar Riau Alang Khoiruddin Albert Camus Albertus Prasetyo Heru Nugroho Aldika Restu Pramuli Alfian Dippahatang Ali Audah Alia Swastika Alim Bakhtiar Allex Qomarulla Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amin Hasan Aming Aminoedhin An. Ismanto Ana Mustamin Andhika Dinata Andong Buku #3 Andong Buku 3 Anindita S Thayf Anisa Ulfah Anjrah Lelono Broto Anton Wahyudi Anugrah Gio Pratama Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam APSAS (Apresiasi Sastra) Ardi Wina Saputra Arie MP Tamba Arif Hidayat Arif Saifudin Yudistira Arman A.Z. Arti Bumi Intaran Asarpin Asrul Sani Astrikusuma Ayung Notonegoro Azizah Hefni Badrul Munir Chair Bahrum Rangkuti Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bedah Buku Kritik Sastra di PDS H.B. Jassin Benee Santoso Beni Setia Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Binhad Nurrohmat Brunel University London Budaya Budi Darma Budi Hatees Budi P. Hatees Bustan Basir Maras Cak Sariban Catatan Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chusnul Cahyadi D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Damiri Mahmud Danang Ari Danarto Daoed Joesoef Darju Prasetya Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Dessy Wahyuni di Bentara Budaya Yogyakarta Dian Sukarno Dick Hartoko Didin Tulus Din Saja Diskusi Djohar Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dodit Setiawan Santoso Donny Anggoro Dwi Cipta Dwi Pranoto Edeng Syamsul Ma’arif Edy A Effendi Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Tunas Emha Ainun Nadjib Erik Purnama Putra Esai Evan Ys F. Aziz Manna F. Rahardi Fahmi Faqih Faisal Kamandobat Faiz Manshur Fajar Alayubi Farah Noersativa Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Feby Indirani Fedli Azis Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Franz Kafka Frischa Aswarini Fuad Mardhatillah UY Tiba Gampang Prawoto Gandra Gupta Gita Ananda Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gusti Eka H.A. Karomani Hamdy Salad Hamid Jabbar Hamka Hammam Fathulloh Happy Widiamoko Hardy Hermawan Hari Puisi Indonesia (HPI) Haris Firdaus Hasan Junus Hasnan Bachtiar Hazwan Iskandar Jaya HB Jassin Helvy Tiana Rosa Hendri R.H Herry Lamongan Herta Muller Heru Kurniawan Hilmi Abedillah Hudan Hidayat Hudan Nur I Gusti Ngurah Parthama I Nyoman Tingkat I Putu Sudibawa IBM Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Fitri Ignas Kleden Ignatius Yunanto Ika Feni Setiyaningrum Imadi Daimah Ermasuri Imam Nawawi Iman Budhi Santosa Indonesia O’Galelano Indra Intisa Indra Tjahyadi Ipik Tanoyo Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iva Titin Shovia Iwan Simatupang J Anto Jefrianto Jhumpa Lahiri JJ. Kusni Jo Batara Surya Joko Pinurbo Jordaidan Rizsyah Jual Buku Paket Hemat Junaidi Junaidi Khab Jurnalisme Sastrawi Kahfie Nazaruddin Kalis Mardi Asih Kedung Darma Romansha Khairul Mufid Jr Khoshshol Fairuz Kiki Astrea Koesalah Soebagyo Toer Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII) Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kuntowijoyo Kurnia Effendi Kurniasih Kurniawan Kuswaidi Syafi’ie Kuswinarto L.K. Ara Laila Putri Rizalia Lan Fang Launching dan Bedah Buku Linus Suryadi Literasi LP3M (Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu) M Fadjroel Rachman M. Adnan Amal M. Faizi M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Riyadhus Solihin M. Taufan Musonip M. Yoesoef Mahbib Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Mariana A Sardino Mario F. Lawi Maroeli Simbolon Marsel Robot Masuki M. Astro Matdon Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mihar Harahap Moh Khairul Anwar Moh. Husen Mohammad Sadam Husaen Muhammad Ali Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Idrus Djoge Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Rasyid Ridho Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhidin M. Dahlan Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Musfeptial Musa Muslim Basyar Mustafa ismail Mustakim Mutia Sukma N. Syamsuddin CH. Haesy Naskah Teater Nasru Alam Aziz Neli Triana Nelson Alwi Nezar Patria Ni Made Purnama Sari Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nissa Rengganis Nobel Sastra Noor H. Dee Nur St. Iskandar Nur Taufik Nurel Javissyarqi Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Orhan Pamuk Pagelaran Musim Tandur Parimono V / 40 Plandi Jombang Penerbit Pelangi Sastra Pentigraf Pidato Kebudayaan Pipiet Senja Pitoyo Boedi Setiawan Politik Pramoedya Ananta Toer Priska Priyo Prosa Puisi PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qomarul Adib R. M. Sutjipto Wiryosuparto R. Timur Budi Raja Radhar Panca Dahana Raedu Basha Rahadian Bagus Rahmadi Usman Rahmat HM Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ribut Wijoto Ridwan Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Rodli TL Ronny Agustinus Rosidi Rukardi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saini K.M. Sainul Hermawan Sajak Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang Sanggar Sastra Tasikmalaya (SST) Sanusi Pane Sapardi Djoko Damono Sastra dan Kuasa Simbolik Satu Jam Sastra Saut Situmorang SelaSAstra Boenga Ketjil Seno Gumira Ajidarma Seputar Sastra Indonesia Sergi Sutanto Shella Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sides Sudyarto DS Sigit Sugito Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siti Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputro Slamet Hadi Purnomo Soe Hok Gie Soeparno S. Adhy Soesilo Toer Sofyan RH. Zaid Sosiawan Leak Sri Harjanto Sahid St. Takdir Alisjahbana Subagio Sastrowardoyo Sumargono SN Suminto A. Sayuti Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryansyah Sutan Iwan Soekri Munaf Sutan Takdir Alisjahbana Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaifuddin Gani Syamsudin Walad T Agus Khaidir Tanjidor Lembor-Brondong-Lamongan Tatan Daniel Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat Teguh Trianton Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Thomas Ekafitrianus Tjahjono Widijanto Toko Buku Pustaka Pujangga Toto Sudarto Bachtiar Triyanto Triwikromo TS Pinang Udo Z. Karzi Umar Kayam Umbu landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Universitas Jember (UNEJ) Veven Sp Wardhana Veven Sp. Wardhana Vino Warsono Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wage Daksinarga Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Triono KS Wawan Eko Yulianto Wawancara Widodo DS Wiratmo Soekito Wita Lestari Wizna Hidayati Umam Wuryanti Puspitasari Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasunari Kawabata Yok's Slice Priyo Yona Primadesi Yonathan Rahardjo Yos Rizal S Yudha Manggala P Putra Yudhi Fachrudin Yulhasni Yulia Permata Sari Yurnaldi Zadie Smith Zainuddin Sugendal Zainuri Zehan Zareez Zulfikar Akbar